Life isn't Special but Important

100th Days, We always remember

Saya kehilangan sesosok “Bapa” dalam hidup saya di akhir tahun 2011. Sesosok orang tua yang tidak akan pernah hilang kisahnya dari ingatan saya. Saya memanggilnya Mbah Danu. Beliau adalah bapak dari ibu saya, beliau kakek saya.

Seratus hari sudah sejak simbah beristirahat dalam tidur panjangnya. Dalam kedamaian yang menyempurnakan segala makhluk yang hidup di dunia ini. Seratus hari yang patut disyukuri bahwa kehidupannya membawa kisah yang dapat dikenang oleh kami yang masih harus terjaga sampai Gusti “memerintahkan” kami untuk terlelap.

Sebagian yang kamu miliki, bukanlah milikmu.

Mbah Danu bukan orang yang kaya dalam ukuran harta, tetapi beliau kaya akan pengalaman dan kaya akan segala filosofi hidup yang sangat dalam. Karena saya tidak fasih berbahasa Jawa, saya jarang sekali berkomunikasi dengan beliau. Tetapi, ada beberapa hal yang akan saya pegang selalu sampai Gusti “mengistirahatkan” saya.

Sebagai seorang anak muda, saya sedang dalam masa mengenal harta duniawi. Segala sesuatu yang menyenangkan di dunia ini harus  saya miliki. Keegoisan dan pemborosan sering kali membutakan mata saya. Sebagai seorang anak perempuan, barang-barang seperti sepatu, tas, atau alat kecantikan menjadi sesuatu yang patut dimiliki dan seringkali saya tidak memikirkan berapa rupiah yang saya habiskan untuk itu. Ibu yang mungkin gerah dengan segala pemborosan itu terus menerus mengulang kata-kata yang sama, kata-kata yang didapatnya dari simbah.

“Anggaplah 10% dari gajimu bukan milikmu. Berikan ke orang lain, maka berkatmu akan lebih banyak. Buat apa menyimpan banyak harta kalau mati tidak akan kamu bawa ‘kan?”. Kalimat yang sederhana, tapi mengena. Memang kalau dipikir-pikir, kalau suatu hari nanti kita mati untuk apa segala harta itu? Ambil contoh sederhana. Perusahaan perbankan saat ini sedang “gemar” menawarkan asuransi baik melalui telepon maupun melalui iklan di televisi. Pada saat membeli asuransi itu, tentu akan ada pertanyaan yang sama, “Untuk siapa uang asuransi itu diwariskan jika Anda meninggal?”. Nah! Di sinilah saya berpikir, daripada harta itu nantinya menumpuk tak berguna, kenapa tidak kita berikan kepada yang membutuhkan?

Terdengar sulit memang. Namun, tidak akan terasa sulit jika saya mengganti kata memberi dengan membagi. Seperti simbah yang selalu membagi sebungkus rokok miliknya pada siapa pun yang datang ke rumahnya. Sederhana, tapi membahagiakan.

Pendidikan itu nomor SATU

Mbah Danu hanya seorang tukang bangunan. Segala penghasilannya didapat dari sebuah centong semen. Sering saya mendengar Ibu bercerita mengenai simbah yang sering bepergian jauh untuk membangun rumah. Pendidikan tinggi masih menjadi barang mewah bagi orang di masa dulu. Bisa baca tulis saja sudah cukup bagi mereka yang kurang mampu. Tapi tidak untuk Mbah Danu. Pernah suatu ketika simbah “dicela” oleh orang lain. Untuk apa menyekolahkan anak tinggi-tinggi? Lebih baik uangnya digunakan untuk yang lain. Sejak saat itu, simbah rela bepergian jauh supaya anak-anaknya bisa terus bersekolah sampai jenjang yang paling tinggi.

Hingga hari ini, simbah telah menuai hasil dari jerih payah yang ditanamnya melalui pendidikan. Dengan pendidikan itu, anak-anak simbah bisa menjadi lebih baik dari hidup simbah sendiri.

Ada satu cerita yang membuat saya seperti tertimpa palu godam di kepala dan tertonjok tepat di ulu hati. Ibu pernah bercerita kalau suatu hari Ibu harus membayar keperluan untuk sekolahnya, sedangkan simbah sedang tidak memegang uang. Tetapi di hari ketika Ibu harus membayar, simbah sudah menyiapkan kebutuhannya. Tentu tidak hanya simbah yang melakukan hal itu, orang tua saya pun sudah tentu dengan kesadaran penuh akan berusaha memenuhi segala kebutuhan anak. Bentuk pengorbanan orang tua untuk anak yang belum tentu, saya, sebagai anak bisa membayarnya. Orang tua akan membanting tulang lebih keras dan bermandi peluh lebih deras demi masa depan anak yang lebih baik dari orang tuanya. Dengan segala fasilitas yang saya dapat dari jerih payah orang tua, saya masih sering menyia-nyiakannya. Bersyukur pun nyaris terlupakan.

Pembicaraan terakhir

Saya bersyukur sebelum kesehatan simbah menurun, saya masih sempat berbincang dengan simbah. Saya sempat bercanda, menanyakan kabarnya, dan mendengar bahwa simbah sehat. Saya mencandai simbah dengan menanyakan mau minta uang berapa sama saya? Jawaban simbah singkat, padat, jelas, dan di luar perkiraan saya. “Saya gak bisa membedakan uang yang mau kamu kasih. Berapa pun itu, akan tetap saya terima. Yang penting bisa mencukupi kebutuhan.”

Beberapa hari setelah pembicaraan singkat itu, simbah masuk rumah sakit. Kesehatannya mulai menurun. Pembicaraan terakhir dengan simbah itu masih saya simpan dengan baik di dalam ingatan saya. Betapa kurangnya saya bersyukur atas segala yang saya miliki, atas segala yang saya terima. Gusti sudah berbaik hati dengan tidak membiarkan saya kekurangan, tetapi masih saja saya merasa kurang. Seandainya itu bukan kali terakhir saya berbicara dengan simbah, saya tidak akan pernah belajar dari simbah.

———

100 is just a number, but we always remember. There is something to learn from you. May you rest in peace.

With all of my heart,

Your granddaughter.

In Memoriam, Matheus Sukati Danuwiyono (1 Jan 1920 - 31 Des 2011)


Bermimpi

Aku bermimpi tentangmu semalam. Menatapku penuh kasih dan cinta yang begitu membara.

Aku bermimpi tentangmu semalam. Menjagaku hangat dalam pelukmu. Membelai lembut rambutku yang terurai.

Aku bermimpi indah tentangmu semalam. Membangunkanku dengan kenyataan yang mencekik leherku. Aku hanya bermimpi. Memimpikanmu begitu indah, menusuk tepat di dadaku.

Aku tak ingin terbangun. Biarkan aku terlelap dengan kamu menantiku di sana. Mendekapku, mengecupku, mencintaiku.

Aku ingin bermimpi jatuh cinta padamu, kekasihku.

————-

090212


Untitled 2

Aku bukan malaikat yang bersayap indah.

Aku bukan bidadari ayu yang menghiasi setiap dongeng anak-anak.

Aku bukan putri cantik yang hanya menanti dibangunkan dari tidur panjangnya supaya jatuh cinta.

Aku manusia yang mencari cinta dengan hatiku.

Aku manusia yang mencari bahagia.

Dengan setiap tawa dan air mata, aku tahu dan mengerti, aku mencintaimu.

Dan itu sudah lebih dari sekedar cukup.

260112


Bahagia itu, kamu.

moammaremka:

Dear #M, 

Karena tak butuh satu alasan pun untuk [tidak] berbahagia saat aku jatuh cinta, dan seterusnya jatuh cinta [kepadamu]. 

Sejak kau izinkan aku tinggal di hatimu, tak ada lagi tempat yang kutuju: selainmu.

Di sudut hatimu aku ingin mengaduh bahagia, tanpa jera.

Di sudut hatimu, aku ingin tinggal selamanya. Menuliskan cerita bahagia, tanpa jeda. 

Jelas sudah! Tak perlu kucari bahagia lagi; karena di kamu, bahagiaku itu.


Via Untitled

Rindu itu…

Rindu itu sepanas kopi hitam yang membakar lidahmu.

Rindu itu semanis gula yang tercecap.

Rindu itu seperti hawa dingin yang datang setelah turun hujan.

Rindu itu membakar habis setiap batang rokok yang kau hisap.

Rindu meninggalkan jejak hampa dalam hembusan nafas.

Rindu itu tak pernah lepas dari hidupmu.

Rinduku, tak pernah tahu ada siapa kukirimkan.

———-

Yumeforia

120112


Kamulah arti itu

moammaremka:

Hilang arti adalah ketika dalam dekat yang rapat kita tak saling memiliki rasa kebersamaan itu.

Hilang arti adalah ketika ketiadaanmu tak lagi menggelitik getar rindu.

Hilang arti adalah … tanpamu.

Dan, sungguh berarti … bisa mencintaimu; 

karena kamu lah arti dari setiap bahagiaku yang terendap, dan dari setiap sedihku yang terisak. 


Via Untitled

Kenapa Harus Galau?

G.A.L.A.U

Hanya itu yang terbersit di benakku. Kenapa harus galau untuk menggambarkan kebingunganku pada apa yang terjadi saat ini? Kenapa kita menyebutnya seperti itu? Aku tak tahu. Sungguh aku tak tahu. Hanya karena stasiun radio yang kudengar saat itu memainkan lagu kesukaanmu, aku galau. Lalu, aku akan merasa bahwa semua penyiar radio sedang bersekutu denganmu dan menebarkan benih-benih memori yang tersisa bak mesiu tersulut api lalu memercikkan bunga-bunga api.

Kenapa harus galau kalau ternyata aku meracau? Seolah aku masih mengingatmu sementara aku berlari meninggalkanmu. Meninggalkan semua tentangmu. Tapi memori tentangmu tak pernah hilang. Aku meracau di batas sadarku. Hanya ada kamu, kamu, dan hanya kamu. Meski kata cinta tak kan pernah lagi terucap di bibirku tapi kecupmu masih tercecap di sana. Membuatku ingin berbalik ke arahmu, mengejar bayangmu, meski semu aku ingin mendekapmu. 

Aku kembali meracau, tentangmu. Kenapa aku harus meracau ketika galau? Aku tak tahu. Sungguh aku tak tahu. Karena bayangmu masih begitu nyata di depan mataku.

_______

Yumeforia, 121211


From a picture: “Jangan Cuma Gaya! Harus Bisa Jadi Nyata!”

Ya ampun…. saya telah membiarkan blog ini terbengkalai selama berbulan-bulan. Maafkan atas tindakan sok sibuk saya ini. Maklum, saya sedang menikmati masa-masa menjadi pengangguran terselubung alias freelancer. Yup! Freelancer. Saya masih mencari-cari pekerjaan apa yang bisa membuat saya menikmati setiap prosesnya. Harus saya akui, saya harus banyak belajar dari orang ini.

Siapa dia? Kenapa dia? Dia siapa? Yang pasti dia yang membuat saya semakin teguh pada tujuan saya semula.

Kami memanggilnya Japra. Dia pecinta Power Rangers dan dia mengaku bahwa dia adalah titisan Red Ranger (hanya fiktif belaka). Hampir setiap tweet dan status update facebook nya selalu dianalogikan seperti power rangers yang siap bertempur dengan monster-monster aneh yang ada di film itu. Saya baru mengenalnya setahun yang lalu di sebuah event bernama Citra Pariwara (acara penghargaan untuk praktisi periklanan di Indonesia). Sama-sama volunteer di acara itu dan sama-sama pencinta puisi membuat kami dekat. Singkat kata singkat cerita, di akhir acara Citra Pariwara itu, Japra berfoto dengan piala BG Award (penghargaan untuk kategori iklan buatan mahasiswa). Dia pun bilang, “tahun depan gw harus pegang piala ini”.

Dalam kurun waktu setahun Japra mengikuti beberapa lomba serupa untuk mengasah kemampuannya dalam membuat iklan. Yang pertama dia mengikuti Pekom (Pekan Komunikasi) UI dan berakhir hanya dengan menjadi finalis. Kekecewaan sempat terlihat jelas di wajahnya yang bulat macam Pak RT. Dia sempat merasa tidak enak karena teman-teman advo (sebutan volunteer di Citra Pariwara) sudah jauh-jauh datang ke UI untuk mendukungnya dan dia tidak berhasil menang. Well, for me, UI itu gak jauh karena saya ngesot aja bisa nyampe ke UI.

Tapi, apakah dia menyerah? Tentu tidak! Setiap kali dia merasa gagal, dia hanya memandangi foto di atas tadi dan terus berjuang untuk membuat karya yang bagus. Sesekali kami bertukar pikiran lewat pesan singkat, saling memberi semangat, dan saling mendukung. Di sebuah event periklanan lain di Semarang bernama Carakafest (eh, bener gak sih?), Japra kembali mengirim sebuah entri untuk dilombakan. Hasilnya? Selain mendapat penghargaan best dress (bayangkan orang gemuk, rambut gondrong, pakai baju pelampung berwarna orange, itulah yang dia pakai), meskipun hasil minjem baju pelampung temen, dia juga berhasil menggondol piala bronze. What a surprise!

His destiny is not stop there. Tujuannya adalah BG Award di Citra Pariwara 2011. Surprisingly, saya dan beberapa Advo tahun lalu kembali bergabung di Advo tahun ini. Termasuk Japra. Sayangnya Japra harus meninggalkan Advo kali ini karena dia masuk sebagai finalis BG. As a friend we should support him on any situation. Di hari penjurian BG, dengan kekuatan kepo tingkat tinggi, saya berusaha mengorek informasi. Tapi apa daya, mulut Advo lain terkunci rapat karena sudah disumpah pocong supaya tidak membocorkan rahasia (ini lebay sih). Pada intinya saya tidak berhasil mendapat informasi secuil pun mengenai hasil penjurian sampai di hari pengumuman Top 3 BG dan Japra adalah salah satunya. Saya yang sedang bicara dengan salah satu juri dari Jepang mendadak berteriak dan membuatnya kaget karena saya tiba-tiba berteriak (gomenne Nakayama-san~ >.<). Tapi Japra tidak hanya mendapat TOP 3 BG, tapi dia adalah pemenang BG Award Citra Pariwara 2011.

Saya bangga? Saya lebih dari sekedar bangga. Karena saya mengikuti perjalanannya untuk meraih impiannya. Japra harus terjatuh sebelum dia bangkit dan berdiri. Saya pun turut terharu dibuatnya ketika dia bercerita bahwa sebuah foto yang diambilnya setahun yang lalu bisa diwujudkannya. Tiba-tiba saya teringat bahwa saya pernah bilang ke Japra bahwa apapun yang dilakukan dengan hati pasti akan terbaca oleh orang lain bahwa sebenarnya kita mampu. Sekarang, kata-kata itu seolah menghantam saya tepat di ulu hati. Japra yang selama ini (katanya) diremehkan karena lulus lebih lambat daripada teman yang lain, meskipun tertatih, dia berhasil mewujudkan impiannya hanya dengan sebuah foto. Ini menjadi PR untuk saya yang masih meraba-raba, di mana hati ini saya letakkan supaya orang lain bisa membaca kemampuan saya.

Atau mungkin saya harus membuat foto yang serupa dengan Japra dan berusaha untuk mewujudkannya? Membuatnya nyata dan bukan hanya bergaya.

Selamat ya, Ranger! Bumi sudah sedikit tenang, meskipun manusia itu sendiri yang akan menjadi monster lain di hidup ini. *pig hug* (anda tidak salah baca, ini adalah pelukan sesama keluarga b*bi)

Kampai~!!

P.S: buat partnernya Japra, kamu juga hebat kok!


Kenangan

Hujan kembali membawa pada satu kenangan tentang kita. Ketika kamu masih di sini, mencintaiku sepenuh hatimu. Membawaku pada satu kenangan ketika aku masih tertawa bersamamu. Tertawa setulus hatiku.

Hujan begitu memilukan hari ini. Semua terasa basah dan berlumpur. Tak hentinya mata ini mengalirkan air mata kesedihan dan meninggalkan hati yang berkubang dalam lumpur. Terjerembab dan terjebak. Tanpa tahu kapan aku bisa kembali bangkit dan mengibaskan lumpur yang menempel seperti aku mengibaskan debu di kakiku dan aku sanggup berjalan meninggalkan semua lumpur kenangan tentangmu, tentang kita.

Hujan meninggalkan senyap dan aku semakin tenggelam dalam lumpur.


Wow Ternyata Nama Asli Artis-artis Indonesia itu lucu-lucu ya

saya baru tahu nama asli beberapa artis Indonesia. ada beberapa yang memang menggunakan nama asli, ada juga yang memang berasal dari nama peran yang dimainkannya. tapi, ada satu nama yang saya kurang suka dari cara penyebutannya.


18
To Tumblr, Love Metalab

Get Tumblr Layouts